Posted by: yanesaptayani | October 27, 2009

Kepada Kamu dan Perjalanan

Senja di riuh keramaian.

Menatap pijakan langkahnya,

Hentakan tubuhnya,

Aku mengenal benar binar matanya!

Teduh mata yang belakangan seakan mampu ‘menghipnotis’

dan mengisyaratkan riang pikiranku untuk tak ingin segera

berpaling dari sebuah cerita. Titik dimana pertemuan dan kebersamaan.

Aku bukan ‘The Drama Queen’, tapi aku menikmati setiap peristiwa indah Perjalanan…

Untuk rasa yang tak bisa kuelakan. Senada dengan ego yang tak mudah kuredam.

Aku masih bertanya – diantara galau dan saat sendiriku -

tentang saat senja (masih) di riuh keramaian. Dan kian ramai.

Telah mengenal ‘separuh dunianya’, menjadikannya begitu teristimewa.

Untuk senjaku di hari itu-yang mulai meredup gelap,

Bergegas menghantarkanku pulang,

Aku hanya bisa terdiam,

Tertoreh senja.

stdu. 150909

Posted by: yanesaptayani | July 5, 2009

Teman Berbagi

Jika saja aku bisa membaca pikiranmu. Menerawang hatimu.

Mungkin dunia akan lebih tersenyum untuk kita.

Dan semua kukembalikan lagi kepada-Nya.

 

U, 2009

Posted by: yanesaptayani | March 1, 2009

Me n My Little Note

Membuka kembali blog sahabat, jadi rindu untuk menulis lagi! membaca puisi Mba Diannovi tentang hujan terasa menyentuh sukma. Ach, sedemikian indahnya hujan untuk selalu bisa ‘dirasa’, meski terkadang menjadi dilema..

Demam Facebook melanda. Bisa bertemu kembali dengan teman lama yang hampir sembilan tahun lost contact sungguh membahagiakan. Terbaru, bisa reunian lagi lewat Facebook dengan teman sekolah yang notabene sudah belasan tahun tak jumpa, surprising! jadi sedikit mengenang ‘kekonyolan’ dan ‘kejadulan’ masa lalu :) . Belum lagi hubungan komunikasi dengan teman-teman blogger menjadi semakin erat. Pun, dengan teman-teman kantor dan teman-teman kuliah…. unlimited space and time!

Namun, satu yang perlu di ingat-kompromi dengan waktu dan sikon-agar tetap bisa  ’survive’ ber-Fb ;) .

Seiring bertambahnya teman, bertambahnya waktu untuk bersosialisasi, bertambahnya wawasan, tetap melaju menata hari di awal Maret 2009 dengan sikap optimis,

Luv 4 all.

Posted by: yanesaptayani | January 24, 2009

A Gift from A Friend

Ketika kita meminta pada Allah setangkai bunga segar, Ia beri kita kaktus berduri.

Kita meminta pada-Nya binatang mungil dan cantik, Ia beri kita ulat berbulu.

Kita sedih, protes, dan kecewa.. betapa tidak adilnya ini,

Namun kemudian, kaktus itu berbunga sangat indah,

dan, ulat pun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.

Itulah jalan Allah, indah pada waktunya.

Allah tidak memberi apa yang kita HARAPKAN, tapi ia memberi apa yang kita PERLUKAN.

Kadang kita sedih, kecewa, terluka..

tapi jauh di atas segalanya,

Ia sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.

By Deri via SMS. 081208

Posted by: yanesaptayani | January 2, 2009

Tahun Baru !

Berpikir bijak memaknai setiap detail kata, ungkapan, dan tindakan. Tidak semua harus ’sejalan’ dan ’satu rasa’ dengan kita. Menghargai perbedaan justru menandakan bahwa kita telah memantapkan satu langkah ke depan.

Ada banyak sahabat dan orang-orang tersayang melingkupi,

Full of support,

Full of praying,

Full of critical :-)

Adalah berkah yang tak ternilai besarnya.

Ketiadaan adalah pembelajaran dari proses pendewasaan.

Happy New Year 2009 ! :-)

Posted by: yanesaptayani | November 9, 2008

Pagi yang Tak Bisa Kutemui di Jogja

yk32

Perjalanan dari Cawas menuju Jogja memakan waktu kurang lebih satu jam. Perjalanan kembali melewati jalur Jalan Raya Jogja-Solo dan sempat disuguhi pemandangan indah Candi Prambanan, indeed, aku terpesona.

Kali pertama memasuki kota Jogja kulihat LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan). Baru tersadar ternyata Jalan Raya Jogja-Solo jalan tembusnya kesini. Jadi teringat beberapa tahun silam pernah singgah di LPP untuk mengikuti serangkaian tes guna penempatan tugas di Medan. Sempat jadi Backpacker dan harus singgah juga ke UGM, serba urgent saat itu.

Perjalanan selanjutnya memasuki Malioboro. Can’t wait to see and explore the atmosphere. Keramaian dan hiruk-pikuk di sudut belanja dan sudut Jalan Malioboro selalu membuatku rindu. Kangen juga dengan masjid besar di Gedung DPRD depan Malioboro. Alhamdulillah bisa menjalani Sholat Maghrib di sana. Dulu, di masjid ini dikala hujan begitu deras – selepas kepulangan dari LPP – kita pernah berdiam diri hingga menunggu saat kepulangan ke Jakarta, by train.

Selanjutnya, menanti sahabat. Thank God, pada akhirnya bisa bersua kembali dengan Dhini dan Sandy, dua sahabat (partner in life) yang kali terakhir kutemui lebih dari setahun lalu. Bahagia dan rindu bercampur aduk jadi satu. Terkenang perjalanan saat ada moment FKY (Festival Kesenian Yogya) di Benteng Vredeburg, kita menonton pertunjukan musik hingga cukup malam, what an amazing night… Terkenang perjalanan kita di Jalan Cendana YK, dan mampir di Kantor Metro TV, sight-seeing for Tomy Ristanto. Terkenang jalan-jalan kita menyusuri sudut Jogja, mampir ke tempat Bakpia Pathok, juga kehangatan keluarga Dhini dan Sandy yang truly welcome. Thanks Dhin and Sandy for accompanied me that time..

Juga thanks untuk oleh-olehnya kemarin, dengan bertemu saja sudah membuatku senang.

Then, back to Jakarta-lewat jalur selatan,

Di hempasan sore yang berganti malam,

Back to reality,

Routinity.

(Jogja in mind : Rainy, Romantism and Friendship)

Posted by: yanesaptayani | November 9, 2008

Di Suatu Tempat Bernama Cawas

image0021

Tiba di Jalan Raya Jogja – Solo,

Dari yang bernama Terminal Penggung,

Perjalanan memasuki Kecamatan Cawas, Kota Klaten, Jawa Tengah..

Keramahan kota mulai menyergap. Jauh dari yang namanya hingar-bingar dan rentetan kesemerawutan.

Pasar tradisional yang ngangeni, ladang persawahan yang terhampar luas di kanan-kiri jalan, di sana kutemukan juga napas kesederhanaan yang ‘ndjawani’ – dalam pola berpikir, berperilaku, dan melakukan gerak hidup sehari-hari.

Modernitas tak terhindarkan. Disudut lain yang tak jauh dari Cawas, di Kecamatan Pedan,

Disana mudah ditemukan retail market, berikut perbankan, lengkap dengan fasilitas Anjungan Tunai Mandiri-nya (ATM). Ada pula sarana untuk berinternet. Buatku itu Excited.

Lika-liku jalan di Cawas penuh tantangan. Ada begitu banyak belokan atau pertigaan yang model jalan satu dengan lainnya hampir sama. It was quiete funny. Diperlukan usaha ekstra keras untuk bisa sampai ke tujuan. Ada seninya, secara tidak langsung kita jadi diajak untuk berpikir kritis agar tidak menyasar jalan. Dan kalaupun pada akhirnya benar-benar nyasar dan menemui jalan buntu (buntu pikiran maksudnya hehe…) dengan berat hati menghubungi orang setempat untuk menjadi guide dadakan.

Menarik, karena berpikir kritis berarti ada banyak argumentasi karena ada banyak kepala. Juga ada ekspresi spontan yang tak tertahankan berup yield, entah karena berhasil menemukan jalan atau justru karena jalan yang dilalui salah. Sederhana, tapi bermakna. Karena sedikit banyak ini mengajarkan hidup. Fight, dan tidak boleh menyerah untuk mencapai sesuatu.

Di Bayat, ada makam Raja Pandanaran yang memiliki nilai history tinggi, dapat  dijadikan pilihan untuk dikunjungi.

Sesaat menghirup udara Cawas,

untuk selanjutnya menuju Jogja melepas kangen dengan kota tercinta dan menemui sahabat..

Posted by: yanesaptayani | July 13, 2008

Laju KRL Malam Kian Diminati

Kawan terdekat pulang menggunakan kereta. Bertambah lagi satu pengguna jasa public transportation yang beralih moda transportasi dari kendaraan pribadi. Dering telepon darinya di suatu malam, Senin 07 Juli 2008, mengabarkanku tentang keberadaannya di stasiun malam itu. Keberadaan yang tak biasa untuknya, juga untukku. Terdengar hangat suaranya dari kejauhan-diantara desah angin malam dan nyaring pluit Pak Masinis-“Ini kali pertama aku pulang naik kereta malam”, ujarmu. Berada di stasiun Dukuh Atas malam itu, jadwal keberangkatan pukul 20.54, menuju Serpong, rumah tinggalnya.

Andai kita bisa pulang bareng ya ..” kata itu yang terucap dibibirku, selintas menutupi kekagetanku yang tak mengira terpikirkan juga olehnya untuk pulang menggunakan kereta. Menanggalkan sejenak segenap pekerjaannya yang kutahu benar sudah menjadi ‘nafasnya’ dan tak mudah dia tinggalkan. Demi untuk mencoba satu kereta malam bernama KRL Sudirman Express tujuan Serpong.

Aku senang dia excited dengan kereta. Dia seperti bisa membaca pikiranku yang memang ‘addict‘ dengan kereta. “Aku lapar nih“, ujarmu kali kedua. “Khan ada yang jual Baso Malang .. “, aku menimpali. “Dimana?” sepertinya dia memang lapar berat. Ada beragam jajanan di Stasiun Dukuh Atas. Mau Mpek-mpek Palembang ada. Baso Malang, hayo. Siomay ? Bakwan atau Martabak Goreng.. juga tersedia. Mau cemilan yang gak terlalu berat, Kacang Goreng, Kacang Mede atau Emping Manis bisa jadi pilihan. Tapi kalau malam hari kayaknya yang ada tinggal Baso Malang aja, hikssss..

Sementara, ada progres baru. Esoknya aku kembali pulang menggunakan kereta malam. Berjumpa kembali dengan sesama komuter. Ber-say hello lagi. Senang rasanya bertukar kabar dan informasi dengan mereka, tak pernah ada habis cerita. Terlihat wajah-wajah yang sumringah, antusias. Tak mengenal kata lelah. Meski penat kutahu menaungi mereka setelah seharian bekerja.

Ada Bapak yang bekerja di BNI’46 Sudirman. Cik Lina yang berkantor di Kuningan (heboh cerita-ceritanya tentang mass transportation atau MRT di Singapura;rumah keduanya). Bertemu juga dengan rekan satu kantor yang kebetulan lembur hingga malam. Tentu dengan tidak melupakan Baso Malang yang kusantap dengan nikmat, hmmm…

Gerbong kereta yang kunaiki malam itu tidak lengang lagi seperti beberapa malam lalu. Deretan tempat duduk hampir penuh. Kuperhatikan juga gerbong kanan kiriku, terlihat ‘berisi’. Yang tak berubah petugas aparat kepolisian dan petugas KAI masih setia berjaga dan memantau di setiap gerbong. Kenaikan penumpang yang signifikan, agaknya. Sosialisasi kereta sudah mulai berjalan. Masih berharap banyak semoga KRL malam makin familiar di mata banyak orang, sehingga akan lebih banyak lagi yang tertarik untuk menaikinya.

(070708)

Posted by: yanesaptayani | July 5, 2008

Naik Kereta Malam Cisadane Express

Doubt. Itu kali pertama yang terlintas dipikiranku ketika pada suatu malam-slepas menghabiskan waktu dan energi (baca;membuang keringat di tempat senam dekat kantor)-tiba-tiba dihadapkan pilihan untuk menggunakan alternatif moda transportasi yang satu ini: KRL Malam Cisadane Express, selain Busway. Informasi awal yang kuterima begitu minim. Hanya ungkapan lisan dari seorang teman;yang kebetulan pengguna or komuter kereta sejati yang memberitahukan bahwa pada tanggal 01 Juli 2008 KRL Malam Cisadane Express mulai dioperasikan pada malam hari. Selama ini KRL Cisadane Express, dalam satu hari hanya beroperasi dua kali. Pagi (tiba) di stasiun Rawa Buaya sekitar Pukul 07.00 dan sore (dari Stasiun Duku Atas, Sudirman) pukul 17.50. Jelas, aku menyambut gembira kabar ini. Tidak perlu khawatir lagi jika harus pulang malam;atas nama lembur. Selama ini Busway menjadi satu pilihan. Sedikit banyak sangat membantu. Meski harus ‘rela’ berdesak-desakan dan (seringkali) masuk dalam ‘daftar tunggu’ untuk waktu yang lama.

Namun sayangnya, tidak seperti KRL Malam Sudirman Express Jurusan Serpong yang sudah lebih dahulu beroperasi dan informasinya diberitahukan lewat media sehingga lebih informatif dan diketahui banyak orang. Tidak dengan KRL Malam Cisadane Express. (Setahuku) tidak ada informasi yang jelas mengenai waktu dan keberadaan KRL malam ini. Tidak juga di media. Sehingga kabarnya menjadi simpang siur. Informasi yang kutangkap, “ada-tidak sebenarnya kereta ini“. “Benar-tidak diberlakukan atau dioperasikan pada malam hari “. Meski teman berulangkali menyakinkan bahwa KRL Malam Cisadane Express benar adanya dioperasikan mulai 01 Juli 2008, namun ragu tetap menghadang. Keinginan untuk cepat tiba dirumah dan membayangkan ‘kenikmatan’ dan ‘kenyamanan’ laju kereta, pada akhirnya membulatkan tekadku untuk menggunakan KRL yang satu ini di suatu malam tanggal 03 Juli 2008.

Excited. Tiba diStasiun Dukuh Atas, Sudirman pukul 19.30. Benar, Kereta Malam Cisadane Express jadwal keberangkatan dari Stasiun Dukuh Atas Sudirman pukul 20.05. Kereta masih dalam perjalanan dari Tangerang menuju Stasiun Tanah Abang ke Dukuh Atas, selanjutnya ke Manggarai, kemudian berputar kembali ke Stasiun Dukuh Atas. Masih ada waktu setengah jam untuk menunggu. Kuputuskan untuk sedikit mengisi kekosongan perut dengan membeli jajanan. Suasana peron begitu lengang. Tidak begitu banyak orang. Jauh sekali berbeda suasananya dengan KRL Cisadane Express di waktu sore. Begitu crowded dan penuh sesak. Pengguna kereta jurusan Tangerang dan Serpong tumpah ruah jadi satu di peron yang sama. Waktu ideal untuk pulang kantor. Ada begitu banyak penjaja makanan. Dan juga merchandise.

Tidak banyaknya penumpang justru dengan mudah mengikat rasa kebersamaan sesama komuter. Kita jadi lebih mudah mengakrabkan diri. Bertukar informasi seputar KRL malam. Ternyata kita mempunyai ‘isi kepala’ yang sedikit banyak sama. Sama-sama excited dengan keberadaan kereta malam ini dan berharap kalau kereta ini bisa selanjutnya permanen;terus dioperasikan setiap malam. Dari mereka aku baru tahu kalau ternyata KRL Malam Cisadane Express ini masih dalam tahap uji coba 1 bulan. Jumlah orang yang naik oleh petugas dihitung dan dicatat per harinya, ada kemajuan yang signifikan atau tidak. Mungkin untuk dijadikan bahan pertimbangan, diteruskan atau tidaknya nasib KRL malam ini. Teman-teman sesama komuter kereta ini begitu antusias apalagi jika menyoal tentang seputar promosi kereta. Semangat mereka begitu besar agar KRL malam ini benar-benar bisa dipertahankan. Ada yang mau berusaha mempromosikan dari email ke email;atau dengan mengirim MMS seputar gambar didalam gerbong kereta ( what a lovely picture, anyway; melihat gambar dari seorang teman; terlihat gambar gerbong kereta begitu nyaman; seperti yang dia bilang mirip dengan kereta di Singapura; salut dengan teman baruku yang satu ini dalam mengambil gambar; excelente). Wah kalah start nih aku hehe..

Sekitar pukul 20.15 kereta tiba di Stasiun Dukuh Atas. Segera memasuki gerbong, tapi kali ini tidak perlu terburu-buru karena bisa dipastikan mendapat bangku. Dari petugas kuketahui jumlah penumpang yang naik pada tanggal 03 Juli ini sebanyak 74 orang. Setelah hari sebelumnya sekitar 76 dan 85 orang. Sempat ada rasa khawatir akan keamanan kereta-maklum sudah cukup malam dan bagaimana situasi Jakarta;apalagi diwaktu malam, kita pasti tahulah. Ada beberapa orang polisi berjaga di kereta. Begitu juga petugas kereta api, jumlahnya lebih banyak. Mungkin dari mereka ada yang sekalian menuju pulang. Sedikit tegang karena banyak petugas, tapi itu lebih baik bukan, dari pada tidak ada sama sekali. KRL malam ini berhenti di banyak stasiun. Dan bergerak menyusuri malamnya Jakarta hingga tiba di stasiun perhentianku, Stasiun Rawa Buaya pukul 20.45 menit.

relieve. Menyisakan banyak cerita untuk orang-orang terdekat. Juga teman-teman kantor esoknya. Juga menyisakan kegundahan dan tanda tanya, masih adakah selepas satu bulan, kereta malam ini bertahan.

Jika dihadapkan dengan pertanyaan, perlu kah? pasti perlu. Banyak orang yang membutuhkan sarana transportasi malam yang nyaman dan available, dan itu bisa ditemukan dikereta (KRL Express, tentunya).

Efektif ? jelas, bisa menghindari kemacetan, di jam-jam malam yang kadang masih padat merayap dan bisa memicu ‘esmosi tegangan tinggi’.

Satu lagi, semangat para komuter KRL malam perlu juga dipertimbangkan. Aspirasi mereka dan (juga termasuk didalamnya aku) ‘wajib’ di dengar oleh petugas terkait.

Wah, ’semangat juang’ komuter kereta sejati mulai menular positif ke aku neh.. ;)

Posted by: yanesaptayani | May 16, 2008

Demi Satu Tanya

Jika pagi menjelang, semangatku kuat. Menembus hari, mengarungi jalan, demi satu kerja yang kucintai. Juga demi dia. Yang kuharap hadirnya bisa memberi pencerahan buatku di sepanjang hari.

Hujan deras kala sore. Lorong jalan itu. Saat-saat senja dan waktu lembur, menguatkan kerinduanku tentangnya.

Terpisah karena waktu. Terhempas karena berjuta kesibukan.

Untuk jeda yang tak bisa ditentukan.

Aku sungguh rindu, tapi diamnya telah membuatku jadi matang.

Dulu, rindu menjadi kata penyemangat dan sakral yang mampu mengikat hati dan menyeimbangkan emosi.

Indah jika masih mumpuni.

Older Posts »

Categories